Coaching Salah Kaprah

Coaching Salah Kaprah

download (1)Masyarakat kita suka salah kaprah. Artinya sesuatu yang salah tapi terlanjur dianggap benar. Misalnya penggunaan kata ‘absen’ yang sejatinya berarti tidak hadir. Namun kata absen itu tadi diterapkan kepada kartu absen, yang tujuannya justru untuk mencatat kehadiran. Lebih lucu lagi ketika ada karyawan yang berkata kepada temannya, “Kamu sudah absen belum?”, menurut arti katanya seharusnya bermakna, “Kamu sudah tidak hadir belum?” Seharusnya seseorang yang ditanya demikian garuk-garuk kepala kebingungan. Namun memang dasar masyarakat kita ahli soal salah kaprah, maka yang ditanya bisa menjawab, “Sudah absen kok tadi pagi. “ Nah lho?!?!

Atau pemakaian kata ‘Busway’. “Saya ke kantor naik Busway.” Busway seharusnya berarti sistem jalan yang dikhususkan untuk bis. Kok jalan bisa dinaiki? Namun sekali lagi, masyarakat kita terbukti pintar ber-salah kaprah. Maka bisa saja yang diajak bicara menjawab, “Oya. Busway sekarang penuh banget yaa…?”

Jaya Suprana menyebut ini Keliru-mologi!
Sebelum terjadi salah kaprah (yang lebih parah), saya ingin ‘menyelamatkan’ kata ‘coaching’ yang kebetulan menjadi salah satu bidang yang saya dalami secara professional.

Kata ‘coaching’ bisa jadi tidak asing bagi mereka yang bergerak di bidang training atau sumber daya manusia. Namun, saya sering kali bengong ketika menyadari kata tersebut bisa punya makna yang sangat berbeda bagi orang yang berbeda.

Salah kaprah #1 : Coaching = training!
Seorang supervisor melapor kepada manajernya: “Pak.. semua bawahan sudah saya coaching. Sekarang mereka sudah punya kompetensi untuk melayani pelanggan kita dengan baik.” Sang Manajer pun mengangguk-angguk lega mendengar laporan dari bawahannya itu. Mungkin si Supervisor memakai istilah ‘coaching’ karena dia pernah dengar entah di mana dan terdengar keren kalau dia ucapkan di depan manajernya. Meskipun sebenarnya yang dia maksud adalah “Semua bawahan sudah saya latih.” Mungkin supaya tetap terdengar keren karena memakai bahasa Inggris dia bisa memakai kata ‘training’ (tapi kata ‘training’ sudah basi…hehehe…).

Salah Kaprah # 2 : Coaching = mentoring!
Seorang bos berpesan kepada manajernya: “Sebagai senior yang lebih berpengalaman, Bapak-bapak harus bisa coaching bawahan Bapak-bapak. Berbagi pengalaman dan pengetahuan Bapak-bapak. Supaya mereka juga bisa seperti Bapak.” Saya hanya bisa menebak apa motivasi si Bos memakai kata ‘coaching’. Yang saya tahu, kata yang lebih tepat adalah ‘mentoring’, di mana seseorang dibantu oleh seseorang yang lebih senior dan berpengalaman agar dapat mencapai ketrampilan seperti sang Mentor.

Salah Kaprah #3 : Coaching = diomelin!
Ini yang paling tragis. Di beberapa organisasi, coaching artinya tindakan mendisiplinkan atau mengoreksi suatu kesalahan yang dibuat oleh seseorang. “Andi. Bapak panggil kamu. Katanya kamu mau di-coach.” Setiap kali mendengar seseorang memakai kata ‘coaching’ untuk menyebut tindakan mendisiplinkan atau menegur seseorang , saya meringis dalam hati. Kalau dibiarkan kata ini akan mengalami peyorasi (ini istilah ilmu bahasa untuk menyebut kata yang mengalami penurunan makna). Seperti kata ‘kaki tangan’. Dulu kata ini berarti orang yang membantu. Sekarang artinya ‘gerombolan si Berat’  alias orang yang bersekongkol melakukan tindakan tidak terpuji. Atau kata ‘oknum’. Dulu kata ini berarti ‘pelaku’ tanpa maksud negatif, sekarang kata ini berarti ‘pelaku kejahatan’ (yang kurang pintar, karena tertangkap.. hehehe…).

Saya tidak berani membayangkan, amit-amit jangan sampai terjadi, ketika kata coaching menurun maknanya sehingga berubah menjadi berarti proses memarahi seseorang karena malas dan ‘ndablek’. Alangkah malunya kita di masyarakat international karena sekali lagi kita salah kaprah.

Jadi apa itu coaching. Menurut definisi  International Coaching Federation (ICF) : “Coaching is partnering with clients in a thought-provoking and creative process that inspires them to maximize their personal and professional potential.” Coaching adalah bermitra dengan klien dalam proses yang menantang pemikiran dan kreatif yang akan menginspirasi mereka untuk memaksimalkan potensi pribadi maupun professional mereka.

.Tujuan coaching membantu seseorang untuk mencapai potensinya yang maksimal. Coaching bukan training karena coaching tidak melatih seseorang dalam skill tertentu. Coaching juga bukan mentoring sebab seorang coach belum tentu lebih senior dan berpengalaman dari coachee-nya (coachee = orang yang di-coaching). Coaching sudah pasti bukan sesi diomeli  Seorang coach berproses bersama coachee-nya untuk memunculkan hal terbaik yang ada dalam diri Coachee. Seorang coach menggunakan teknik coaching dan berbagai tools untuk bisa melakukan hal tersebut.

Jelas ya? Coaching bukan buat si Pemalas. Justru kalau memang terpaksa harus pilih kasih. Top-performer lebih memerlukan coaching daripada mereka yang tidak bisa menunjukkan prestasi. Meskipun tentunya, alangkah indahnya jika semua orang mendapatkan kesempatan mendapatkan coaching apapun performance mereka. Dengan demikian semua orang dalam organisasi akan berprestasi lebih baik dan… siapa tahu…. dengan demikian para Coach Profesional seperti saya juga kebanjiran proyek .
Salam Sukses Bahagia!

- Coach Jo -

 

Dapatkan artikel dari saya dengan mendaftarkan email atau invite Pin BBM : 75839D8D.

temukan saya di sosial media

About Johan Ng

Trainer, Leadership and Life Coach, Internet Marketing Consultant, Family Man... Dapatkan inspirasi leadership & coaching dari saya dengan invite Pin BBM : 7A5DED93 atau di : Facebook , Twitter.

Speak Your Mind

*